00.41 | Posted in

“…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (Al-Qur’an, Surah Al-Maaidah )
“The hatred you’re carrying is a live coal in your heart – far more damaging to yourself than to them.”- “Kebencian yang Anda bawa, seumpama sebuah batu bara yang ada dalam hati Anda – yang jauh lebih merusak diri Anda sendiri ketimbang mereka (yang Anda benci)” ~ Lawana Blackwell
Suatu waktu seorang laki-laki dari Syam (Suriah) diupah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk mencaci-maki Keluarga Rasulullah saww. Di Madinah, lelaki ini berjumpa dengan Imam Hasan as (putera Imam Ali dan Fathimah & cucu Nabi Muhammad Saw) dan langsung saja ia mencerca dan mengutuk beliau. Imam Hasan tidak marah, bahkan ia menunggu sampai lelaki itu menyelesaikan “hajatnya”.
Setelah lelaki Syam ini selesai dan puas mengutuk beliau, Imam Hasan menyapanya sambil tersenyum :
“Anda pasti bukan orang sini. Apakah Anda tersesat? Jika Anda butuh pertolongan, mari saya tolong.
Jika Anda butuh sesuatu, akan saya beri.
Jika Anda butuh petunjuk ke suatu tempat, mari saya tunjukkan,
Jika Anda butuh orang untuk membawakan barang-barang Anda, mari saya bawakan.
Jika Anda lapar, mari bersama saya makan bersama.
Jika Anda butuh pakaian, nanti saya akan beri.
Jika Anda diusir dari kampung halaman Anda, mari saya carikan tempat tinggal.
Jika Anda punya keperluan-keperluan, mari saya penuhi semua kebutuhan Anda dan
Jika Anda berada dalam perjalanan, tinggallah bersama saya untuk menjadi tamu saya, nanti akan saya beri Anda bekal….”
Setelah mendengar tawaran Imam Hasan yang sangat simpatik itu, lelaki dari Syam itu menangis seraya berkata, “Saya bersaksi bahwa Tuan adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Allah Mahatahu bahwa sebelum ini, tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya benci dan sekarang tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya cintai di antara seluruh manusia di dunia ini!” (*)
Imam Hasan as, cucu Rasulullah saww ini, tidak segera marah ketika ia dicerca dan dikutuk sedemikian rupa. Pertama-tama ia berkata, “Pasti Anda bukan orang sini!”. Dengan demikian Imam Hasan mengawali pandangannya terhadap lelaki Syam ini dengan prasangka baiknya, bahwa beliau meyakini si lelaki malang ini bukan penduduk Madinah sehingga ia tiada mengenal Imam Hasan yang sesungguhnya.
Provokasi Mu’awiyyah terhadap penduduk Syam telah membentuk pandangan kebencian terhadap Ahlul Bait Rasulullah, namun sikap santun dan simpatik dari Imam Hasan mengubah pola pikir dan pandangannya tentang Ahlul Bait.
Hal seperti ini pun terjadi pada kita semua. Kita sering mengecam dan mencela seseorang atau suatu kelompok yang hanya kita ketahui dari musuh-musuh mereka, bukan dari orang yang kita kecam itu sendiri.
Informasi yang terdistorsi telah merusak pandangan kita yang jernih. Ketelitian dan kejujuran kita untuk mengamati pandangan orang lain sangatlah diperlukan.
Rumi bersyair :
Siapa menabur benih duri di dunia ini,
Waspadalah! Jangan mencarinya
di kebun mawar! (**)
Asumsi-asumsi serta prasangka-prasangka yang tak beralasan mesti disingkirkan dari benak pikiran kita.
“Hatred is settled anger” – “Kebencian dimantapkan dengan kemarahan” ~ Marcus Tullius Cicero
Allahumma shallii ‘alaa Muhammad wa Aali Muhammad…Ya Allah taburkanlah senantiasa kepada kami berkah cintaMu, cinta MuhammadMu, dan Ahlul-bayt RasulMu…amiin..
Category:
��
00.34 | Posted in

Rasulullah saww bersabda, “Murah hati (al-Sakha’) adalah salah satu akhlaq Allah Yang Paling Agung (Al-A’zham)”
1.Karakter aktif dari cinta dapat dijelaskan lewat pernyataan bahwa cinta pertama-pertama adalah persoalan memberi dan bukan menerima.
2.Imam al-Shadiq as berkata, “Murah hati (al-Sakha’) itu adalah salah satu dari akhlaq para nabi dan murah hati itu merupakan tiang iman, tidaklah seseorang menjadi mu’min melainkan ia seorang yang murah hati (sakhyia), dan tidaklah seseorang menjadi murah hati melainkan ia telah memiliki keyakinan dan tekad yang menjulang. Karena sesungguhnya murah hati itu merupakan pancaran cahaya keyakinan (nur al-yaqin)”
3.Norma yang menyatakan bahwa “tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah” bagi mereka mengandung arti bahwa lebih baik menderita kekurangan ketimbang menikmati kesenangan.
4.Dalam tindakan memberi, pribadi dengan karakter ini merasakan kekuatannya, kemakmurannya, kekuasaannya. Memberi adalah pengalaman akan potensi dan vitalitas manusia yang menghasilkan kegembiraan luar biasa.
Imam al-Shadiq mengaitkan sifat murah hati (sakha’) dengan iman, yang mana sifat ini menjadi kemestian bagi seorang mu’min.
Dalam tindakan memberi, manusia-manusia berkarakter produktif mengalami dirinya sebagai makhluk yang berkelimpahan, yang penuh berkah serta hidup, dan oleh karenanya mereka gembira. Memberi bagi manusia berkarakter produktif lebih menggembirakan ketimbang menerima. Bukan karena hal tersebut merupakan sebentuk kerugian, tetapi karena dalam tindakan memberi terdapat ungkapan akan kehidupan (aliveness).
5.Sementara dalam urusan material, memberi sama artinya dengan menjadi kaya. Orang kaya bukanlah orang yang memiliki lebih banyak, tetapi adalah mereka yang memberi lebih banyak. Para penimbun harta yang selalu ketakutan akan kehilangan hartanya layak disebut sebagai orang miskin dan melarat meski dia memiliki harta yang terhitung jumlahnya. Sementara pribadi yang sanggup memberikan dirinya kepada orang lain layak disebut sebagai orang kaya.
6.Memberi telah menjadi tindakan yang lebih memuaskan dan lebih menggembirakan ketimbang menerima. Mencintai juga telah menjadi sesuatu yang lebih penting ketimbang dicintai.
7.Dari karakteristik cinta yang hanya ingin memberi, cinta seakan juga ingin memberi sebuah kehidupan dan keabadian. Karena boleh dikatakan hakekat cinta adalah berusaha demi sesuatu dan membuat sesuatu itu tumbuh, hidup dan abadi.
Cinta dan usaha tidak dapat dipisahkan. Seseorang mencintai apa yang dia usahakan dan berusaha demi sesuatu yang dia cintai. Perhatian dan kepedulian memuat aspek lain dari cinta, yaitu tanggung-jawab (responsibility).
Saat ini, tanggung-jawab kerapkali dipakai untuk menyatakan sebuah tugas, sesuatu yang dibebankan kepada seseorang dari luar dirinya. Tetapi tanggung-jawab dalam arti yang sebenarnya adalah perbuatan yang benar-benar bersifat sukarela. Tanggung-jawab adalah respon atas kebutuhan-kebutuhan manusia, baik yang terungkapkan maupun yang tidak terungkapkan. Bertanggung-jawab berarti mampu dan siap untuk “merespon”.
8.Imam Ali as berkata, ”Murah hati (al-Sakha’) itu merupakan upaya cinta (al-mahabbah).”
9.Murah hati merupakan upaya persiapan batin untuk memperoleh cinta Ilahi.
PERHATIAN AKTIF
Di luar unsur memberi, karakter cinta yang aktif membuktikan bahwa cinta selalu memuat elemen-elemen dasar tertentu, yakni perhatian, tanggungjawab, penghargaan serta pemahaman.
Bukti bahwa cinta memuat perhatian (care) nampak jelas dalam cinta seorang ibu terhadap anaknya. Kita akan meragukan ketulusan cinta seorang ibu jika kita menyaksikan sang ibu kurang memberi perhatian terhadap bayinya, lalai dalam memberinya makan, memandikan atau memberikan kesenangan jasmani.
Sementara kita akan terkesan dengan cinta seorang ibu yang kita lihat memberi perhatian kepada anaknya. Hal ini juga berlaku dalam hal cinta kepada binatang piaraan atau bunga-bunga. Ketika kita melihat orang yang menyatakan bahwa dirinya mencintai bunga-bunga tetapi ia lupa menyiraminya, maka kita tidak akan mempercayai pernyataannya itu.
Cinta adalah perhatian aktif terhadap kehidupan serta perkembangan dari yang kita cintai-entah sesuatu atau seseorang. Cinta akan dianggap tidak ada jika tidak ada perhatian aktif ini.
10.Imam Ali as berkata, “Sifat (al-juud) dermawan itu merupakan tabiat yang mulia (al-karam)”
11.Sifat dermawan atau murah hati dibutuhkan cinta untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh yang dicintainya. Sang pencinta dengan sifat dermawannya itu akan rela mempersembahkan (bukan mengorbankan) kekayaannya, jiwa raganya, bahkan seluruh yang dimilikinya termasuk eksistensinya sendiri.
Di dalam karakter Dermawan mengandung empat sifat utama lainnya, al-Karam, al-Itsar, al-Nail, dan al-‘Afwu.
Al-Karam merupakan kecenderungan untuk mudah menginfakkan hartanya di jalan yang berhubungan dengan kemuliaan.
Al-Itsar, kebajikan jiwa yang dengan sifat ini seseorang menahan diri dari yang diingininya, demi memberikannya kepada orang lain yang menurutnya lebih berhak.
Al-Nail, kegembiraan ketika berbuat baik dan menyukai perbuatan itu.
Al-‘Afwu, mudah memaafkan orang lain yang langsung berkenaan dengan dirinya.
Penghulu para syuhada, Iman Husain as pun berkata, “Barangsiapa yang dermawan niscaya ia menjadi mulia (saada)”
12.Hadits-hadits di atas telah dibuktikan oleh sejarah orang-orang mulia itu sendiri. Kita tidak pernah melihat orang yang memiliki pribadi yang luhur dan mulia melainkan sifat dan tindakan-tindakan dermawan telah menghiasi hidup orang itu.
Para ulama sejati, para fuqaha unggul dan para mujahid ulung tidak ada yang tidak memiliki sifat ini. Kemuliaan dan kedermawanan seolah menjadi padanan kata dan sifat yang tidak mungkin bisa terpisahkan.
Dan para pencinta sejati tidak bisa tidak menyandang sifat ini karena salah satu karakter pencinta sejati adalah keinginan untuk memberi, memberi dan memberi, sebagai sebuah ungkapan cintanya yang universal.
Cinta yang luas tidak mendapatkan cukup tempat dalam dada orang yang kikir dan bakhil.
Cinta yang murni tidak memiliki tempat dalam dada orang-orang pendendam.
Cinta yang tulus tidak mampu bertahan dalam dada orang-orang yang tidak memiliki kepedulian pada orang lain.
Berbuat baik serta berderma itu tidak hanya berwujud bantuan materi, tetapi dapat juga dengan memberikan bantuan spiritual.
Bantuan spiritual, moral dan koreksi prilaku merupakan nilai yang lebih tinggi ketimbang berderma materi.
Rasulullah saww pernah bersabda kepada Imam Ali as, “Seandainya Allah memberikan petunjuk kepada manusia melalui dirimu, maka hal itu lebih baik dari semua yang ada di muka bumi (ini)”
Category:
��