00.30 | Posted in

Rasulullah saww berkata, ”Maukah kalian kuberitahu orang yang paling menyerupaiku (pribadinya)?” Mereka (para sahabat) berkata,”Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau mengatakan,”Yaitu orang yang paling baik akhlaknya, yang paling ‘sejuk’ naungannya, yang paling berbakti kepada kerabat-kerabatnya, yang paling besar cintanya kepada saudara-saudaranya, yang paling sabar dalam menetapi kebenaran, yang paling pemaaf, dan yang paling kuat kesadaran dirinya di saat ridha maupun di saat marah” (Bihar al-Anwar 66 : 306)
Kemarahan barangkali merupakan emosi yang paling buruk yang perlu ditangani. Dari waktu ke waktu kita semua pernah mengalami perasaan yang kuat ini. Beberapa penyebab umum kemarahan termasuk frustrasi, sakit hati, kejengkelan, kekecewaan, pelecehan, dan ancaman. Hal ini membantu kita untuk menyadari bahwa kemarahan bisa menjadi teman atau bisa menjadi musuh, bergantung pada bagaimana kita mengekspresikannya. Mengetahui bagaimana cara untuk mengenal dan mengekspresikan kemarahan dengan tepat, dapat menolong kita untuk mencapai tujuan-tujuan, dan mengatasi kemunculan-kemunculannya, memecahkan problem-problem dan bahkan melindungi kesehatan kita.
Bagaimanapun, kegagalan untuk mengenal dan memahami kemarahan kita, menggiring kita ke berbagai problem.
Beberapa ahli (psikolog) percaya bahwa kemarahan yang ditekan merupakan penyebab yang mendasari kecemasan dan depresi. Kemarahan yang tidak terekspresikan dapat mengganggu hubungan, mempengaruhi pikiran, dan pola prilaku, juga berbagai problem-problem fisik, seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, kepala pusing, gangguan kulit dan masalah-masalah lain yang saling terkait. Apa yang bahkan lebih buruk adalah hubungan antara berbahayanya kemarahan yang tak terkontrol dengan kejahatan, emosi dan penganiayaan fisik serta prilaku-prilaku kekerasan lainnya. Redford Williams, seorang ahli penyakit dalam (internist) dan spesialis tentang prilaku (behavioral specialist) di Duke University Medical Center, Amerika Serikat telah mengembangkan sebuah program 12-langkah yang dapat menolong orang untuk belajar mengatasi emosi-emosi amarahnya.
Williams menyarankan memantau pemikiran Anda yang cenderung sinis karena mempertahankan atau memelihara “sebongkah permusuhan”. Hal ini akan mengajarkan Anda tentang keseringan dan jenis-jenis situasi yang memprovokasi Anda. Carilah dukungan dari orang-orang penting dalam hidup Anda untuk mengatasi perasaan Anda dan mengubah pola prilaku Anda.
Dengan memelihara “sebongkah rasa permusuhan” Anda, Anda dapat menyadari kapan dan di mana Anda memiliki pemikiran-pemikiran yang agresif, sehingga ketika Anda menemukan diri Anda dalam situasi seperti ini, Anda dapat menggunakan teknik-teknik seperti :
1. Mengambil napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan-lahan
2. Berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah Yang Indah
3. Menghentikan memikirkan hal yang membuat hati Anda menjadi panas. Hal ini dapat menolong Anda menghentikan siklus kemarahan Anda.
4. Letakkan diri Anda di dalam “sepatu” orang lain. Empati mungkin akan menambah perspektif yang berbeda.
5. Jagalah di dalam pikiran, bahwa kita semua adalah manusia, yang bisa melakukan kesalahan.
6. Pelajari bagaimana menertawai diri Anda sendiri dan menemukn humor dalam berbagai situasi.
7. Pelajari juga bagaimana cara menjadi relaks atau santai.
8. Walaupun mungkin Anda pernah mendengar bahwa mengekspresikan kemarahan itu lebih baik daripada memendamnya, namun ingatlah bahwa amarah yang sering dilampiaskan sering bertentangan dengan hasil yang diharapkan dan bisa membuat kita diasingkan oleh banyak orang.
9. Hal penting lainnya adalah bahwa Anda perlu mempraktikkan “percaya pada orang lain”. Adalah biasa jika kita lebih mudah marah ketimbang percaya, namun dengan mempelajari bagaimana mempercayai orang lain, Anda akan dapat mengurangi amarah Anda yang langsung kepada mereka.
10. Ketrampilan ‘mendengarkan dengan baik’ akan meningkatkan komunikasi dan dapat memfasilitasi rasa percaya di antara orang-orang. Kepercayaan ini dapat membantu Anda dalam mengatasi emosi-emosi permusuhan yang potensial; menguranginya bahkan mungkin mengenyahkannya.
11. Pelajari juga bagaimana Anda menegaskan diri Anda sendiri. Hal ini merupakan sebuah pilihan yang konstruktif. Ketika Anda menemukan diri Anda marah pada seseorang, coba jelaskan kepada mereka apa yang mengganggu Anda tentang prilaku mereka dan mengapa Anda mesti marah kepada mereka.
Anda membutuhkan kata-kata dan kerja yang lebih untuk menjadi tegas ketimbang harus memperlihatkan kemarahan Anda, namun ganjaran yang akan Anda peroleh menjadi seimbang. Andai kita menyadari semua ini, maka kita akan merasakan bahwa hidup ini terlalu singkat, jika kita hanya selalu marah pada segala hal.
12. Langkah terakhir memerlukan permintaan maaf kepada orang yang Anda telah marah kepadanya. Dengan membiarkan pergi kebencian dan melepaskan tujuan balas jasa atau ganti rugi, Anda akan merasakan bahwa beban berat berupa kemarahan telah terangkat dari pundak Anda.
Joan Lunden, pengasuh rubrik kesehatan majalah Healthy Living Magazine mengatakan “Holding on to anger, resentment and hurt only gives you tense muscles, a headache and a sore jaw from clenching your teeth. Forgiveness gives you back the laughter and the lightness in your life.” –
Tahanlah kemarahan (Anda), kekesalan dan rasa sakit hati Anda, yang membuat otot Anda tegang, sakit kepala dan rahang yang tegang karena gemeretak gigi Anda. Pemberian maaf mendatangkan kembali tawa dan pencerahan dalam hidup Anda.
Category:
��
01.46 | Posted in

SUDAH menjadi sifat dasar manusia, tidak pernah luput dari yang namanya salah. Namun banyak juga manusia yang masih sulit mengakui kesalahan apalagi meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat.
Sebagai orang tua yang bijak, kebiasaan sulit meminta maaf sebaiknya sedini mungkin harus segera diatasi pada si kecil. Dan bulan suci seperti ini, tentu menjadi momen yang tepat untuk menanamkan sifat-sifat teladan kepada anak.
Mengajarkan hal-hal positif pada si kecil sejak dini, diyakini akan membiasakan mereka untuk meminta maaf bila melakukan suatu kesalahan pada orang lain.
Berikut beberapa cara yang bisa Anda terapkan untuk mengajarkan anak untuk meminta maaf:
1. Berikan contoh langsung
Sebaiknya sebagai orang tua, biasakan sedini mungkin menggunakan kata maaf bila melakukan kesalahan, baik terhadap anak-anak atau orang lain. Kebiasaan yang diterapkan dan dilihat anak-anak ini diharapkan akan menumbuhkan sikap yang sama di diri mereka.
2. Tunjukkan dengan bahasa tubuh
Saat meminta maaf, lakukan kontak mata. Hal ini dilakukan agar anak bisa turut merasakan penyesalan Anda. Bahasa tubuh ini dipercaya efektif digunakan saat berkomunikasi dengan batita yang belum lancar berkomunikasi secara verbal. Permintaan maaf bisa dilakukan dengan memeluk dan menciumnya setelah meminta maaf. Namun ingatkan anak, pelukan dan ciuman permintaan maaf hanya boleh diberikan pada anggota keluarga terdekat, sedang orang lain cukup dengan salaman saja.
3. Gunakan lirik lagu
Anak-anak tentu menyukai film-film bertema Barney atau Teletubbies. Adegan gerak dan lagu dalam film tersebut biasanya berisi kalimat kasih sayang dan berpelukan sebagai permintaan maaf. Lakukan adegan tersebut, dan ia akan mengikuti setiap adegan dan gaya dalam lirik lagu tersebut.
4. Ajarkan nilai empati
Setelah anak melakukan kesalahan, dan berat berkata maaf, ajaklah dia berdiskusi tentang rasa empati. Misalnya, saat ia memukul temannya hingga terluka, tanyakan padanya "menurutmu, apa yang kamu rasakan jika temanmu memukulmu?" Tanyakan hal ini sesering mungkin saat anak melakukan kesalahan, agar ia tahu bahwa perbuatannya salah. Biarkan juga dia mencari jawaban atas pertanyaan Anda, hal ini untuk melatih empatinya.
5. Minta maaf bukan berarti kalah
Mengajarkan sikap berjiwa besar itu memang sulit. Tak hanya pada orang dewasa, lebih-lebih pada anak kecil. Namun sedini mungkin biasakan mereka dengan contoh yang baik, bahwa meminta maaf terlebih dulu tidak selalu berarti kalah. Tapi sebuah perbuatan untuk menghormati kepentingan dan perasaan orang lain.
6. Minta maaf = hubungan pertemanan kembali baik
Saat si anak mengalami masalah dengan temannya, dan dia bersedia meminta maaf, maka sampaikan kepadanya itu sebuah langkah yang baik. Selain masalahnya terselesaikan, hubungan pertemanan itu akan kembali membaik, tanpa rasa kesal maupun dendam.
7. Malas minta maaf = kehilangan teman
Bagi seorang anak, teman sangatlah berarti. Ajarkan pada anak untuk selalu menyayangi dan menghargai teman-temannya. Jika si anak malas meminta maaf saat melakukan kesalahan, katakan padanya teman-temannya pasti tidak akan mau main dan berteman dengannya lagi.
8. Berikan apresiasi
Setelah mengucap kata maaf, baiknya berikan anak sebuah apresiasi dalam bentuk pujian. Hal tersebut sebagai langkah yang menguatkan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diteladani.
Category:
��